Presiden Baru Siap-Siap, Target Pertumbuhan Ekonomi 5,6% di 2025 Berat

SHARE  

Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat peresmian Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara Pangsar Soedirman dan 25 Rumah Sakit TNI di Jakarta, Senin (19/2/2024). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana) Foto: Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat peresmian Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara Pangsar Soedirman dan 25 Rumah Sakit TNI di Jakarta, Senin (19/2/2024). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia –¬†Sejumlah ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang dipatok 5,3-5,6% terlampau tinggi. Perlu usaha ekstra keras untuk bisa mewujudkan pertumbuhan ekonomi setinggi itu.

Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual mengatakan pemerintah tak bisa hanya mengandalkan konsumsi untuk mengejar target pertumbuhan itu. Menurut dia, apabila hanya mengandalkan konsumsi, maka pertumbuhan ekonomi 2025 hanya akan tumbuh di sekitar 5% saja.

“Untuk pertumbuhan ini tantangannya cukup besar, karena kita memang butuh sumber pertumbuhan baru, kalau hanya mengandalkan konsumsi sepertinya kita hanya akan tumbuh 5%,” kata David ketika dihubungi, Selasa (5/3/2024).

David menilai target pertumbuhan itu juga harus berhadapan bahwa ekonomi mitra dagang terbesar RI, yaitu China sedang melemah. Dia memperkirakan ekonomi China hanya akan tumbuh 4 % pada 2024 dan 2025. Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu berkolerasi positif dengan ekonomi negeri tirai bambu tersebut.

“Jadi kalau China sedang menguat kita biasanya ikut menguat,” kata dia.

Baca: Siap-siap Ya! Bos The Fed Mau Kasih Bocoran Kapan Suku Bunga Turun

Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas membeberkan asumsi makro yang telah disepakati pemerintah dalam Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2025. Deputi Bidang Ekonomi di Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan asumsi inflasi dalam KEM-PPKF 2025, ditetapkan sebesar 2,5% plus minus 1%, kemudian nilai tukar Rp 15.000 – Rp 15.400 per dolar AS. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dipatok 5,3%-5,6%.

Lebih lanjut, harga minyak mentah atau Indonesia Crude Price (ICP) US$ 75 – US$ 85 per barel, sementara lifting minyak 583 – 603 ribu barel per hari dan gas 1 juta – 1,045 juta barel setara minyak per hari. Amalia mengatakan target pertumbuhan ekonomi ini harus dijalankan bukan hanya oleh pemerintah, tetapi seluruh stakeholder.

David mengatakan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi itu, pemerintah harus mencari sumber pertumbuhan ekonomi yang baru. Dia menuturkan sumber pertumbuhan baru yang paling bisa diandalkan adalah investasi.

“Investasi yang orientasinya ekspor dan banyak menyerap tenaga kerja. Itu mungkin bisa didorong untuk meningkatkan daya beli domestik,” ujarnya.

Baca: Jokowi Bertemu PM Australia, Bahas 4 Poin Penting Termasuk Nikel

Sementara itu, peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky menilai asumsi makro yang diusulkan pemerintah masih realistis. Hanya saja dia menyoroti target pertumbuhan ekonomi yang terlampau tinggi.

“Sejauh ini asumsinya relatif realistis, kecuali pertumbuhan ekonomi yang sedikit terlalu optimis,” kata dia.

Riefky memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2025 masih sama dengan tahun 2023 dan 2024, yaitu di kisaran 5,0% sampai 5,1%. Dia belum melihat adanya sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Sejauh ini kami belum melihat sumber pertumbuhan ekonomi baru yang signifikan,” ujar dia.

Senada, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita menilai target pertumbuhan ekonomi 5,3-5,6% terlalu tinggi. Dia memprediksi ekonomi RI pada 2025 hanya tumbuh 5,0-5,3%.

“Saya belum melihat adanya potensi penguatan dari beberapa kontributor pertumbuhan kita,” kata dia.

Baca: Prabowo Blak-blakan: Rakyat Miskin Tahu yang Memperjuangkan Mereka

Ronny mengatakan pertumbuhan ekonomi saat ini sangat bertumpu pada konsumsi rumah tangga dengan andil di atas 50%. Sedangkan, pada tahun mendatang dia menduga konsumsi rumah tangga akan dihadapkan pada tekanan daya beli akibat inflasi harga kebutuhan pokok.

“Itu berpotensi menggerus permintaan domestik,” ujar dia.

Di lain sisi, Ronny menilai performa investasi yang bisa menjadi motor lainnya pertumbuhan Produk Domestik Bruto juga tidak bersinar. Tahun 2023, kata dia, investasi belum mampu tumbuh di atas 6%. Dia memprediksi pertumbuhan investasi juga tak akan jauh berbeda pada tahun 2024.

Sementara itu, Ronny melanjutkan kinerja ekspor RI belum akan pulih karena perlambatan ekonomi global. Dengan semua kondisi itu, dia mengatakan harapan satu-satunya pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya pada belanja pemerintah.

“Itu pun, sebagaimana diketahui, peningkatannya tidak terlaluhttps://trukgandeng.com/ besar,” katanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*